Propinsi Maluku merupakan daerah kepulauan, yang terdiri dari 900 buah pulau, besar dan kecil. Pulau-pulau yang besar antara lain pulau Halmahera, pulau Buru dan pulau Seram. Laut Banda merupakan laut yang terdalam di dunia, sehingga mengandung bermacam-macam binatang laut seperti udang, mutiara, berjenis-jenis ikan, juga tumbuhan laut, dan lain-lain. Sedangkan daratannya, sejak jaman dahulu sudah terkenal dengan hasilnya berupa rempah-rempah seperti pala, cengkeh, kayu putih dan sebagainya. Dari Maluku pertama-tama lahir para pahlawan seperti Sultan Babbulah dan Sultan Chairun dari Ternate, Thomas Matulessy atau Kapten Patimura, juga seorang srikandi yang terkenal yakni Martha Christina Tiahahu.
Disebabkan daerahnya yang terdiri dari berpuluh-puluh pulau, maka masyarakatnya juga terdiri dari beberapa sub suku bangsa dengan bahasa yang berbeda. Sehingga kehidupan masyarakat Maluku beraneka ragam adat istiadatnya. Suatu tradisi atau adat yang sampai kini masih berlaku adalah adat pela yaitu persekutuan antara dua desa dalam ikatan kegiatan tolong menolong dengan tidak memandang agamaatau asal usuk penduduk desa itu. Adat pela ini dilaksanakan dalam usaha tolong-menolong jika terjadi bencana atau kesusahan juga dalam pembangunan desa misalnya membangun mesjid, gereja dan sebagainya, semuanya dilakukan secara spontan tanpa imbalan apapun.
Masyarakat daerah Maluku Tengah, jauh sebelum agama Islam maupun bangsa Barat datang ke daerah ini, sudah memiliki sistem pemerintahan yang teratur, dikepalai oleh seorang tokoh yang disebut raja. Dalam menjalankan tugas sehari-hari, raja dibanti oleh beberapa badan yaitu Samiri Rajapatih atau badan eksekutif desa, Saniri Negeri, terdiri dari raja patih ditambah mereka yang dipilih antara rakyat desa dan Saniri lengakap yang terdiri dari Saniri negeri ditambah kepala-kepala keluarga dalam desa. Dewasa ini pemerintah desa dikendalikan oleh dan badan Saniri negeri, dan keputusan yang bertalian dengan kepentingan desa diputuskan pada rapat Badan Saniri yang diselenggarakan dalam baik atau balai desa.
Dewasa ini, masyarakat Maluku pada umumnya beragama Islam atau Kristen, namun begitu di dalam upacara adat masih terlihat sisa-sisa dari kepercayaan lama. Seperti halnya masyarakat adat pada umunya, maka masyarakat Maluku juga melaksanakan upacara-upacara yang berkaitan dengan lingkungan hidup manusia yaitu kelahiran, perkawinan dan kematian. Pada kelahiran bayi, didalam upacara penanaman dodomi atau plasenta, disertai doa, bila anak menjelang dewasa dilakukan upacara gosok gigi. Upacara perkawinan dilaksanakan melalui peminangan, laki-laki terhadap sang gadis yang akan dilamar dengan membawa tiga jenis rumput sebagai lambang cinta kasih. Rumput tersebut disebut: kano-kano melambangkan pengharapan, jelas-jelas mengandung arti akan selalu datang dan rumput cings-cinga melambangkan tetap ingat. Sehingga ketiga itu akan datang kembali karena kau selalu dalam ingatanku. Mengenai upacara perkawinan, biasanya dilaksanakan menurut agama, kemudian secara adat kedua mempelai diarak ke rumah mempelai laki-laki. Dahulu kematian dianggap malapetaka sehingga upacara kematian dianggap sebagai hal yang luar biasa. Biasanya upacara ini disertai dengan tari-tarian sosaloho-dan siolegu. Kemudian mayat tidak dikubur melainkan diletakkan dalam peti yang terbuat dari pelepah daun nipah dibawa di suatu tempat tertentu kemidian dibakar. Upacara seperti ini sekarang tidak dilakukan lagi.
Dalam bidang kesenian, seni suara di darah Maluku sangat menonojol, baik vokal maupun instrumental. Hampir setiap desa terdapat grup paduan suara, terutama untuk menyanyi pada sebagian besar berasal dari Maluku, maka merupakan suatu bukti bahwa Maluku mempunyai peranan dalam perkembangan seni suara. Di bidang musik, Maluku terkenal dengan suling bambu yang terdapat di setiap desa dimana orkes seruling ini dipergunakan dalam kebaktian di gereja maupun untuk meramaikan upacara-upacara lainnya. Selain itu terdapat pula orkes kulit Bia atau kulit Siput yang sangat unik.
Di Maluku banyak bentuk-bentuk pantun yang dihapal dan dipergunakan pada saat badendang atau anakona, yaitu nyanyi bersama sambil berpantun. Selain itu dikalangan rakyat berkembang pula cerita-cerita rakyat yang dituturkan secara turun-menurun misalnya cerita Nenek Luhu, Batu Apen, Gunung Nona, dan lain-lain. Dalam dunia seni tari, daerah Maluku memiliki beraneka ragam tari-tarian tradisional seperti tari Cakalele, yakni semacam tari peran, tarian Sulureka-reka yakni tarian yang menggunakan empat buah gaba-gaba atau pelepah sagu yang dipegang dan dilompati penari lainnya. Sedangkan tarian yang berasal dari tarian asing adalah tari-tarian terhorlapeyp, lause dan lain-lain, yang telah dianggap tarian warisan budaya atau tarian daerah setempat. Seni pahat dan seni ukir di daerah Maluku banyak terdapat di Maluku Tenggara yang nampak pada patung-patung keluarga dan patung-patung pemujaan. Seorang anggota keluarga yang meninggal selalu dibuat patungnya sesuai dengan muka dan sifat-sifat orang itu. Seni kerajinan di setiap daerah dapat berkembang, seperti pembuatan tempat air minum, tempat bunga dan lian-lain yang terbuat dari tanah yang dibakar denga pelepah sagu di Maluku Tengah. Kerajinan tenun dengan tangan di Maluku Tenggara, anyam-anyaman di Maluku Utara dan kerajinan dari cengkeh, mutiara, batu karang, lokan untuk souvenir, sangat menonjol di daerah Maluku.
Disebabkan daerahnya yang terdiri dari berpuluh-puluh pulau, maka masyarakatnya juga terdiri dari beberapa sub suku bangsa dengan bahasa yang berbeda. Sehingga kehidupan masyarakat Maluku beraneka ragam adat istiadatnya. Suatu tradisi atau adat yang sampai kini masih berlaku adalah adat pela yaitu persekutuan antara dua desa dalam ikatan kegiatan tolong menolong dengan tidak memandang agamaatau asal usuk penduduk desa itu. Adat pela ini dilaksanakan dalam usaha tolong-menolong jika terjadi bencana atau kesusahan juga dalam pembangunan desa misalnya membangun mesjid, gereja dan sebagainya, semuanya dilakukan secara spontan tanpa imbalan apapun.
Masyarakat daerah Maluku Tengah, jauh sebelum agama Islam maupun bangsa Barat datang ke daerah ini, sudah memiliki sistem pemerintahan yang teratur, dikepalai oleh seorang tokoh yang disebut raja. Dalam menjalankan tugas sehari-hari, raja dibanti oleh beberapa badan yaitu Samiri Rajapatih atau badan eksekutif desa, Saniri Negeri, terdiri dari raja patih ditambah mereka yang dipilih antara rakyat desa dan Saniri lengakap yang terdiri dari Saniri negeri ditambah kepala-kepala keluarga dalam desa. Dewasa ini pemerintah desa dikendalikan oleh dan badan Saniri negeri, dan keputusan yang bertalian dengan kepentingan desa diputuskan pada rapat Badan Saniri yang diselenggarakan dalam baik atau balai desa.
Dewasa ini, masyarakat Maluku pada umumnya beragama Islam atau Kristen, namun begitu di dalam upacara adat masih terlihat sisa-sisa dari kepercayaan lama. Seperti halnya masyarakat adat pada umunya, maka masyarakat Maluku juga melaksanakan upacara-upacara yang berkaitan dengan lingkungan hidup manusia yaitu kelahiran, perkawinan dan kematian. Pada kelahiran bayi, didalam upacara penanaman dodomi atau plasenta, disertai doa, bila anak menjelang dewasa dilakukan upacara gosok gigi. Upacara perkawinan dilaksanakan melalui peminangan, laki-laki terhadap sang gadis yang akan dilamar dengan membawa tiga jenis rumput sebagai lambang cinta kasih. Rumput tersebut disebut: kano-kano melambangkan pengharapan, jelas-jelas mengandung arti akan selalu datang dan rumput cings-cinga melambangkan tetap ingat. Sehingga ketiga itu akan datang kembali karena kau selalu dalam ingatanku. Mengenai upacara perkawinan, biasanya dilaksanakan menurut agama, kemudian secara adat kedua mempelai diarak ke rumah mempelai laki-laki. Dahulu kematian dianggap malapetaka sehingga upacara kematian dianggap sebagai hal yang luar biasa. Biasanya upacara ini disertai dengan tari-tarian sosaloho-dan siolegu. Kemudian mayat tidak dikubur melainkan diletakkan dalam peti yang terbuat dari pelepah daun nipah dibawa di suatu tempat tertentu kemidian dibakar. Upacara seperti ini sekarang tidak dilakukan lagi.
Dalam bidang kesenian, seni suara di darah Maluku sangat menonojol, baik vokal maupun instrumental. Hampir setiap desa terdapat grup paduan suara, terutama untuk menyanyi pada sebagian besar berasal dari Maluku, maka merupakan suatu bukti bahwa Maluku mempunyai peranan dalam perkembangan seni suara. Di bidang musik, Maluku terkenal dengan suling bambu yang terdapat di setiap desa dimana orkes seruling ini dipergunakan dalam kebaktian di gereja maupun untuk meramaikan upacara-upacara lainnya. Selain itu terdapat pula orkes kulit Bia atau kulit Siput yang sangat unik.
Di Maluku banyak bentuk-bentuk pantun yang dihapal dan dipergunakan pada saat badendang atau anakona, yaitu nyanyi bersama sambil berpantun. Selain itu dikalangan rakyat berkembang pula cerita-cerita rakyat yang dituturkan secara turun-menurun misalnya cerita Nenek Luhu, Batu Apen, Gunung Nona, dan lain-lain. Dalam dunia seni tari, daerah Maluku memiliki beraneka ragam tari-tarian tradisional seperti tari Cakalele, yakni semacam tari peran, tarian Sulureka-reka yakni tarian yang menggunakan empat buah gaba-gaba atau pelepah sagu yang dipegang dan dilompati penari lainnya. Sedangkan tarian yang berasal dari tarian asing adalah tari-tarian terhorlapeyp, lause dan lain-lain, yang telah dianggap tarian warisan budaya atau tarian daerah setempat. Seni pahat dan seni ukir di daerah Maluku banyak terdapat di Maluku Tenggara yang nampak pada patung-patung keluarga dan patung-patung pemujaan. Seorang anggota keluarga yang meninggal selalu dibuat patungnya sesuai dengan muka dan sifat-sifat orang itu. Seni kerajinan di setiap daerah dapat berkembang, seperti pembuatan tempat air minum, tempat bunga dan lian-lain yang terbuat dari tanah yang dibakar denga pelepah sagu di Maluku Tengah. Kerajinan tenun dengan tangan di Maluku Tenggara, anyam-anyaman di Maluku Utara dan kerajinan dari cengkeh, mutiara, batu karang, lokan untuk souvenir, sangat menonjol di daerah Maluku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar